Are ESG conversations in Indonesia just skin deep?
Are ESG conversations in Indonesia just skin deep?
In January this year, President Joko Widodo launched Indonesia’s Green Taxonomy at the 2022 Financial Services Industry Annual Meeting (Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan) which looks to classify sustainable financing and investment activities to aid shareholders in Indonesia carry out sustainable economic activities. The Green Taxonomy is one of the first policies by the nation to encourage the private sector to put green investments as a priority, and incentivise businesses to comply with ESG-related regulations.
Meanwhile, in a report by PwC in 2021, Eddy Rintis, territory senior partner, PwC Indonesia with the fourth-largest population globally and a 67% labour force participation rate, Indonesia is expected to continue to attract investment across industries. He added that technology can play a critical role in helping organisations achieve their ESG ambitions.
“Once a company determines its ESG goals, the identification of related data points will require new data-collection methods. Companies can leverage various technologies – such as geospatial planning, satellite imagery and unmanned aerial vehicles – to generate reliable, verifiable and real-time data for analysis and monitoring. Data analytics can process a high volume of statistics to provide more reliable and useful information,” he shared.
This focus on topics such as ESG and sustainability has also trickled down to the PR industry. H+K Indonesia CEO Marianne Admardatine added that today, more than 50% of the agency’s conversation with clients tends to be surrounding sustainability. One key topic that has taken off for the company is around waste management, and e-waste. “We are tasks to explore any parties or NGO we can collaborate with as part of our clients’ proof point within their CSR program,” she added.
However, despite sustainability being a major topic in the business world in Indonesia for some time, many PR firms have not yet taken the initiative in leading the discussion, Ong Hock Chuan, managing partner of Maverick PR said. The thought leaders have mainly been the sustainability practitioners and one or two public affairs firms. In recent times, the conversation is also leaning more towards ESG given the push by the Indonesian government in imposing reporting standards.
While this has led to countless webinars and talk around the topic, most of the conversations where communications professional do get involved in revolve around packaging of the reports. Ong added that clients also reach out to agencies such as his to help in strategising CSR and sustainability efforts to receive more exposure in the media, “reflecting the level of understanding of corporations here on the role of PR in sustainability and ESG issues”.
Ong added that despite the discussions, the communications industry in Indonesia still has a rather superficial understanding of sustainability and ESG. As a result, many agencies also end up packaging or marketing the corporation’s sustainability or ESG reports that has been prepared by sustainability specialists.
Where does the emphasis need to be
More needs to be done to get PR professionals, across all levels, to deepen their understanding of ESG to advice clients on how to get started with ESG, said Ong. Agencies must be able to advice clients on the areas they should commit themselves to, identify key stakeholders and communicating with them in a manner that is authentic and devoid of any traces of greenwashing.
He added that further focus needs to be laid on the fact that sustainability and ESG is not another means to greenwash, but to increase the trust in a company. “Having ESG and sustainability at the core allows the company not only to mitigate risks but to also spot and take advantage of opportunities in a changing environment and social norms,” he said.
Admardatine added that clients also need to be more focused and dedicated towards sustainability and not within the habit in putting all agendas including sustainability into one communication program.
“Many brands don’t realize that they have been doing a lot of sustainability programs due to their sporadic approach. Packed it with other marketing and communications program makes the efforts less noticable and less valuable. I would like to see this habit changed to a more focused and dedicated act,” said Admardatine.
Sje added that the sustainability program should be separate from the regular marketing and communications of the brand itself to see the true impact/results. As such sustainability programmes need to be sustained over longer periods with better focus paid on measurement of the results.
Challenges to the agenda
According to Admardatine the story telling of most sustainability program is still a challenge to many. The usual routine of most pr activities were always surrounding the announcing of the program and the short-term actions, and not many share the results and process regularly nor create a PR campaign to get stakeholders feel the good result from the program and wants to be part of the program (lack of an effective call to action campaign and measurements)
While there is no doubt an increase in the number of brands seeking PR support in the ESG and sustainability space, there remains a lot of work to be done around educating the Indonesian market on the benefits of ESG and building genuine awareness around it, said Joyce Hutapea, market lead - Indonesia, PRecious Communications.
Most companies in Indonesia employing ESG and sustainability communications initiatives today are mostly trying to keep up with what their competitors are doing, and the challenge is for brands and businesses to combine authenticity, consistency and sensitivity.
“Going green is not about being fashionable, but with the greater goal of delivering significant impact in the communities they serve,” said Hutapea. As such, a lot of conversations PRecious is currently having is around providing context and explaining the sensitivity and challenges of genuinely talking about sustainability.
“This is a matter of business ethics rather than quick wins,” she said, adding driving consistent action, and education around the topic continues to be a big challenge.
“At PRecious, we hope we can steer conversations towards how communications can serve as a force that helps industries and ecosystems move in tandem towards promulgating a sustainability mindset,” she added.
-------------
Indonesian translation:
Apakah kajian lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST) di Indonesia masih dangkal?
Pada bulan Januari tahun ini, Presiden Joko Widodo meluncurkan Taksonomi Hijau Indonesia pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022 yang bertujuan untuk mengklasifikasikan kegiatan pembiayaan dan investasi berkelanjutan untuk membantu pemegang saham di Indonesia melakukan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Taksonomi Hijau adalah salah satu kebijakan pertama di negara ini yang mendorong sektor swasta untuk menjadikan investasi hijau sebagai prioritas dan mendorong bisnis untuk mematuhi peraturan terkait praktik environment, social, and government (ESG) atau lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST).
Sementara itu, dalam laporan PwC pada tahun 2021, Senior Partner PwC Indonesia, Eddy Rintis mengatakan dengan populasi terbesar keempat secara global dan presentase tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar 67%, Indonesia diperkirakan akan terus menarik investasi di berbagai industri. Dia juga menambahkan bahwa teknologi dapat memainkan peran penting dalam membantu organisasi mencapai ambisi LST mereka.
“Begitu perusahaan menentukan tujuan LST, untuk mengidentifikasi titik data terkait akan memerlukan metode pengumpulan baru. Perusahaan dapat memanfaatkan berbagai teknologi,seperti perencanaan geospasial, citra satelit, dan kendaraan udara tak berawak (UAV)–untuk menghasilkan data yang andal, dapat di-verifikasi, serta data dapat dikelola secara real-time untuk keperluan analisis dan pemantauan. Analisis data dapat memproses statistik dalam jumlah besar untuk memberikan informasi yang lebih andal dan bermanfaat,” ujarnya.
Fokus pada topik seperti LST dan keberlanjutan ini juga telah mengalir ke industri PR. CEO H+K Indonesia Marianne Admardatine menambahkan bahwa saat ini, lebih dari 50% percakapan agensi dengan klien cenderung seputar keberlanjutan. Salah satu topik utama yang diangkat perusahaan adalah pengelolaan limbah dan limbah elektronik. “Kami ditugaskan untuk menjajaki pihak atau LSM mana pun yang dapat kami ajak kerjasama sebagai bagian dari pembuktian program CSR klien kami,” tambahnya.
Namun, meskipun keberlanjutan menjadi topik utama dalam dunia bisnis di Indonesia selama beberapa waktu, banyak perusahaan PR yang belum mengambil inisiatif untuk memimpin diskusi, kata Ong Hock Chuan, Managing Partner Maverick PR. Para pemimpin pemikiran terutama adalah praktisi keberlanjutan dan satu atau dua firma urusan publik. Belakangan ini, pembicaraan juga lebih condong ke LST karena adanya dorongan dari pemerintah Indonesia untuk memberlakukan standar pelaporan.
Meskipun hal ini telah menjadi topik dalam banyak webinar, sebagian besar percakapan yang melibatkan praktisi komunikasi hanya berdasarkan laporan semata. Ong menambahkan bahwa klien juga menjangkau agensi seperti dia untuk bantuan dalam menyusun strategi CSR dan upaya keberlanjutan untuk menerima lebih banyak paparan di media, “mencerminkan tingkat pemahaman perusahaan di sini tentang peran PR dalam isu keberlanjutan dan LST."
Ong menambahkan bahwa terlepas dari diskusi, industri komunikasi di Indonesia masih memiliki pemahaman yang agak dangkal tentang keberlanjutan dan LST. Akibatnya, banyak lembaga juga akhirnya mengemas atau memasarkan laporan keberlanjutan atau LST korporasi yang telah disiapkan oleh spesialis keberlanjutan
Hal apa yang perlu ditingkatkan?
“Masih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman yang mendalam seputar LST di antara para praktisi PR di semua tingkatan, sehingga mereka dapat memberi saran kepada klien tentang implementasi LST,” kata Ong. Para agensi komunikasi harus dapat memberikan saran kepada klien tentang bidang yang perlu mereka tekuni, mengidentifikasi pemangku kepentingan utama, dan berkomunikasi dengan mereka dengan cara yang otentik serta tanpa jejak greenwashing yang merupakan upaya perusahaan untuk terlihat ‘lebih hijau’ atau strategi komunikasi suatu perusahaan untuk memberikan citra yang ramah lingkungan.
Beliau menambahkan bahwa fokus lebih lanjut perlu diletakkan pada fakta bahwa keberlanjutan dan ESG bukanlah cara lain untuk melakukan greenwash tetapi untuk meningkatkan kepercayaan pada perusahaan. “Memiliki LST dan keberlanjutan sebagai inti memungkinkan perusahaan tidak hanya untuk mengurangi risiko, tetapi juga melihat dan memanfaatkan peluang dalam lingkungan dan norma sosial yang berubah,” katanya.
Admardatine menambahkan bahwa klien juga perlu lebih fokus dan berdedikasi terhadap keberlanjutan dan tidak dalam kebiasaan menempatkan semua agenda, termasuk keberlanjutan, ke dalam satu program komunikasi.
“Banyak brand tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan banyak program keberlanjutan karena pendekatan sporadis mereka. Membungkusnya dengan program pemasaran dan komunikasi lainnya membuat upaya tersebut kurang terlihat dan kurang berharga. Saya ingin kebiasaan ini diubah menjadi tindakan yang lebih fokus dan berdedikasi,” kata Admardatine.
Dia menambahkan bahwa program keberlanjutan harus dipisahkan dari pemasaran dan komunikasi reguler dari brand itu sendiri untuk melihat dampak/hasil yang sebenarnya. Dengan demikian, program keberlanjutan perlu dipertahankan dalam periode yang lebih lama dengan fokus yang lebih baik diberikan pada pengukuran hasil.
Tantangan agenda
Menurut Admardatine, penceritaan sebagian besar program keberlanjutan masih menjadi tantangan bagi banyak orang. Rutinitas biasa dari sebagian besar kegiatan PR selalu seputar pengumuman program dan tindakan jangka pendek, dan tidak banyak yang membagikan hasil dan proses secara teratur atau membuat kampanye Humas untuk membuat pemangku kepentingan merasakan hasil yang baik dari program dan ingin menjadi bagian darinya (kurangnya kampanye dan pengukuran ajakan bertindak yang efektif).
Meskipun tidak diragukan lagi terdapat peningkatan jumlah brand yang mencari dukungan PR di bidang LST dan keberlanjutan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengedukasi pasar Indonesia tentang manfaat LST dan membangun kesadaran sejati di sekitarnya, kata Joyce Hutapea, Market Lead - Indonesia, Precious Communications.
Sebagian besar perusahaan di Indonesia yang menggunakan inisiatif LST dan komunikasi keberlanjutan saat ini berusaha mengikuti apa yang dilakukan kompetitor mereka, dan tantangannya adalah bagi brand dan bisnis untuk menggabungkan orisinalitas, konsistensi, dan kepekaan.
“Going green bukan hanya untuk sekedar mengikuti tren, tetapi harus dengan tujuan jelas dan baik agar memberikan dampak signifikan terhadap komunitas yang ada,” kata Hutapea. Oleh karena itu, banyak percakapan yang dilakukan PRecious saat ini seputar penyediaan konteks dan menjelaskan sensitivitas dan tantangan untuk berbicara tentang keberlanjutan secara tulus.
“Ini merupakan masalah etika bisnis daripada kemenangan secara instan,” katanya, seraya menambahkan bahwa melakukan tindakan yang konsisten dan pendidikan seputar topik ini terus menjadi tantangan besar.
“Di PRecious, kami berharap dapat mengarahkan percakapan tentang bagaimana komunikasi dapat berfungsi sebagai kekuatan yang membantu industri dan ekosistem bergerak bersama-sama menuju penyebaran pola pikir keberlanjutan,” tambahnya.
Article published at:
0 Comments Add a Comment?