← Back Published on

Translation of Peter Newmark Translation Theory

Peter Newmark's Translation Theory. https://www.slideshare.net/zee_albasyouni/newmarks-theory-2?from_m_app=ios


Proses Penerjemahan menurut Peter Newmark
Newmark mendefinisikan terjemahan sebagai "keterampilan yang berupa upaya untuk mengganti pesan tertulis dan/atau pernyataan dalam satu bahasa dengan pesan dan/atau pernyataan yang sama dalam bahasa lain".

Kata keterampilan tidak selalu berarti harfiah, pada kenyataannya, itu memiliki makna konotatif, menunjukkan bahwa seorang penerjemah dapat bekerja pada empat tingkatan: pertama, penerjemahan merupakan ilmu yang memerlukan pengetahuan yang dapat diidentifikasi; kedua, penerjemahan adalah keterampilan yang membutuhkan bahasa yang tepat dan penggunaan yang dapat diterima; ketiga, penerjemahan adalah seni.

Diagram Proses Terjemahan Newmark:

Pemahaman > Formulasi > Teks Bahasa Sumber > Teks Bahasa Sasaran

Diagram proses terjemahan interlinear tersebut menunjukkan bahwa terdapat dua capaian berbeda yang harus diraih oleh penerjemah. Kedua capaian tersebut mencakup beberapa langkah berbeda untuk menerjemahkan bahasa sumber secara menyeluruh, yaitu:

1. Membaca teks

    "Kita memulai tugas dengan membaca teks asli karena 2 alasan: alasan pertama, untuk memahami apa isi teks; alasan kedua, untuk menganalisis teks dari sudut pandang penerjemah yang mana tidak sama dengan sudut pandang seorang ahli linguistik dan ahli sastra. Kita harus menentukan maksud dan cara teks ditulis dengan tujuan memilih metode penerjemahan yang cocok serta mengidentifikasi masalah-masalah yang muncul berulang", "Untuk memahami teks dibutuhkan pembacaan secara umum maupun mendalam. Pembacaan umum untuk mendapatkan inti "makna "; Di sini, kita mungkin harus membaca ensiklopedia, buku pelajaran, atau surat-surat khusus untuk memahami pokok bahasan dan konsepnya, tolong diingat bahwa bagi si penerjemah, fungsi itu mendahului uraian.", "Pembacaan secara mendalam sangat diperlukan, dalam berbagai teks yang menantang, dari kata-kata di luar maupun di dalam konteks. Pada prinsipnya, misalnya: menemukan TL yang cocok untuk akronim yang digunakan dalam SLT dan memastikan apa makna penulis SL bagi mereka."

    2. Maksud dari teks

      "Sewaktu membaca, kita mencari makna teksnya, misalnya; Dua teks mungkin menggambarkan suatu pertempuran atau kerusuhan atau debat, menyatakan fakta dan gambaran yang sama, tetapi jenis bahasa yang digunakan dan bahkan struktur tata bahasa (kalimat pasif, kata kerja abstrak yang sering digunakan untuk menyangkal tanggung jawab) dalam setiap teks mungkin merupakan bukti dari sudut pandang yang berbeda. Tujuan teks mewakili sikap penulis SL untuk masalah subjek." Untuk meringkas sifat ini, ketika kita menerjemahkan teks kita harus memperhatikan dengan cermat setiap kata yang digunakan oleh penulis SL, dengan struktur tata bahasa yang bertujuan menentukan aspek dari mana penulis SL melihat sebuah masalah dan menyampaikan pesan yang sama yang membangkitkan "reaksi" yang sama dalam bahasa TL.

      3. Maksud penerjemah

        "Biasanya, niat penerjemah identik dengan niat penulis. Tetapi, ia mungkin adalah seorang penerjemah iklan atau serangkaian instruksi untuk menunjukkan kepada kliennya bagaimana hal-hal seperti itu dirumuskan dan ditulis dalam bahasa sumber daripada mengadaptasi atau memberi petunjuk kepada pembaca TL yang baru. Dan lagi, dia mungkin menerjemahkan secara manual instruksi untuk pembaca yang kurang berpendidikan, sehingga penjelasan dalam terjemahannya mungkin kurang dimengerti

        4. Jenis Teks

          Newmark membagi teks menjadi 4 jenis (literatur dan non-literatur):

          • Teks Naratif: urutan peristiwa yang dinamis dengan penekanan pada kata kerja.
          • Teks Deskripsi: bersifas statis dengan penekanan pada verba penghubung, kata sifat, kata benda, dan kata sifat.
          • Teks Diskusi: perlakuan terhadap gagasan dengan penekanan pada kata benda abstrak (konsep), kata kerja pemikiran dan juga aktivitas mental.
          • Teks Dialog: penekanan pada bahasa sehari-hari.

          5. Pembaca

          Penerjemah harus mengetahui karakteristik pembaca dari teks bahasa asli dan teks terjemahan, serta menentukan seberapa besar perhatian yang harus diberikan untuk pembaca dari bahasa target. Seorang penerjemah sebaiknya sadar akan level pendidikan, kelas, usia, dan jenis kelamin dari para pembaca. Dapat disimpulkan bahwa seorang penerjemah harus mengetahui target penerima terjemahan tersebut. Mereka mungkin harus melakukan beberapa penelitian dan menyatakan informasi seputar hal tersebut. 

          6. Setting

            Penerjemah harus mempertimbangkan di mana teks akan dipublikasikan. Untuk siapa penerjemah melakukan penerjemahan? Penerjemah mungkin juga harus memperhitungkan judul yang lebih singkat, paragraf yang lebih pendek, dan sebagainya. Penerjemah harus membuat beberapa asumsi tentang pembaca SL. Melalui setting teks bahasa asli, Penerjemah juga harus mencari tahu apakah pembaca termotivasi untuk membaca teks tersebut. Jenis pembaca ada tiga, yaitu pembaca yang ahli, orang awam yang berpendidikan, dan pembaca yang tidak memiliki banyak informasi. Anda harus menentukan apakah Anda menerjemakan kepada jenis pembaca dari bahasa sumber yang sama atau tidak, barangkali mereka adalah yang memiliki sedikit pengetahuan mengenai topik/budaya tersebut, atau pembaca dengan standar pendidikan bahasa yang lebih rendah. Terakhir, jika Anda menerjemahkan puisi, Penerjemah harus mempertimbangkan pembaca dari bahasa sumber.

            7. Konotasi dan denotasi

              Perlu diingat bahwa disaat semua teks memiliki makna konotasi, ide dan rasa bisa muncul dari kata leksikal tersebut, dalam teks non-sastra, makna denotasi dari sebuah kata biasanya muncul sebelum konotasinya. Namun dalam teks sastra, Anda harus mendahulukan makna konotasinya karena bisa saja teks sastra tersebut bersifat alegori.

              8. Bacaan yang terakhir

                Terakhir, Anda harus memperhatikan aspek budaya dari teks bahasa sumber; Anda harus menggarisbawahi semua pembentukan kata baru, metafor, dan istilah institusional yang khas dalam bahasa sumber, bahasa ketiga, nama-nama, dan kata-kata yang tidak dapat diterjemahkan. Kata yang tidak dapat diterjemahkan adalah kata-kata yang tidak memiliki padanan kata yang sesuai dalam bahasa sumber; kata tersebut mungkin kata sifat atau kata tindakan/kata deskriptif, kata mental/kata yang berkaitan dengan pikiran yang tidak memiliki padanan kata dalam bahasa sumber. Ingatlah bahwa mempelajari hal-hal tersebut dahulu dalam konteks itu sangat membantu, kemudian isolasi seolah-olah hal tersebut adalah kamus atau ensiklopedoa, dan terakhir masukkan kembali ke dalam konteks.